Meski Lumpuh, Rustam Tetap Semangat Mencetak Batu Bata
SUNGAIBULUHUNGAR.COM – Pahitnya hidup pasti dirasakan kita semua. Namun, bukan alasan untuk menyerah. Rustam warga Desa Sungai Buluh Kecamatan Ungar Kabupaten Karimun, sudah 19 tahun cacat dideratanya. Meskidemikian, tidak ada alasan berhenti berusaha meski kondisi tubuhnya sudah tidak sempurna.
Pria kelahiran 1972 ini cacat karena jatuh dari lantai dua saat bekerja di Malaysia. Ketika itu, dirinya langsung lumpuh dan pungung harus dibantu dengan alat. Saat ini, Rustam sulit untuk berjalan seperti orang pada umumnya.
“Untuk berjalan saja, saya harus menggunakan tongkat. Saya jatuh sekitar tahun 1998 . ketika itu saya sedang bekerja di Malaysia,” kenang Rustam.
Pak Itam, begitulah kami memangil pria yang kocak dan lucu di Desa Sungai Buluh ini. Orangnya mudah diajak bicara dan suka bergaul sama warga. Menurut ceritanya, ia menjadi lumpuh dikarenak jatuh dari lantai dua ketika sedang bekerja.
“Yah, jatuh dari lantai dua,” cerita Pak Itak, sembari tak mau lagi mengingat masa kelamnya yang telah terjadi 19 tahun silam tersebut. Kini Pak Itam terus berusaha sekuat dan semampu yang ia dapat lakukan.
Meski kondisi fisiknya sudah berubah, Pak Itam adalah lelaki sejati. Ia tidak berdiam diri apalagi duduk-duduk didalam rumah. Sehari-harinya ia mengisi waktu dengan bekerja mencetak batu bata.
“Batu bata ini milik warga disini,” cetus Pak Itam, ketika ditemui sedang bekerja mencetak batu bata. Pak Itam tampak sudah tidak kaku lagi mencetak batu tersebut. Menggunakan sarung tangan, Pak Itam tampak lincah dan lihai.
“Sudah lama juga saya mencetak batu ini,” terangnya. Selain mencetak batu bata, Pak Itam dipercaya pemilik usaha batu bata tersebut untuk menjaga tempat tempat ini.
“Saya hanya mengambil upah dari mencetak batu tersebut, dalam satu hari saya mampu mencetak batu bata sebanyak dua sak,” tuturnya.
Dua sak seman bisa menghasilkan sekitar 2 ratus lebih batu bata. Nah, Bagaimana pak Itam mampu mencetak batu bata dalam satu hari bisa dua sak dengan kondisi Pak Itam, untuk berjalan saja sulit. Yah rencana tuhan lebih indah dari rencana manusia.
“Saya hanya mencetak dan mengadok semen aja. Sementara untuk mengangkat pasir dan semen, ada orang lain,” terang pak Itam. Dari hasil mencetak semen tersebut, Pak Itam dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
“Alhamdulilah dapatlah untuk makan sehari-hari,” kelakar Pak Itam.
Jika biasanya pencetak batu bata berdiri, namun tidak dengan Pak Itam. Ia mencetak batu ini dengan duduk.
Hidup itu bagaikan waktu terus berjalan, tak bisa henti dan tak pernah bisa mundur. Meski rintangan terus menghampiri, namun bukan alasan untuk menyerah apalagi mundur. Adapun yang sampai mati-matian mengejar gensi itu cuman orang yang lupa bagaimana caranya bersyukur.
Setiap orang akan merasakan gelombang dalam kehidupan ini. Senang, tawa, bahagia, sedih dan derita, pasti akan dirasakan setiap yang bernyawa. Namun, banyak menyerah dengan keadaan ketika dalam keadaan terpuruk, meski kondisi tubuh masih sehat dan bugar, dan akhirnya menyerah tanpa berjuang dan berkorban. (admin)
Pria kelahiran 1972 ini cacat karena jatuh dari lantai dua saat bekerja di Malaysia. Ketika itu, dirinya langsung lumpuh dan pungung harus dibantu dengan alat. Saat ini, Rustam sulit untuk berjalan seperti orang pada umumnya.
“Untuk berjalan saja, saya harus menggunakan tongkat. Saya jatuh sekitar tahun 1998 . ketika itu saya sedang bekerja di Malaysia,” kenang Rustam.
Pak Itam, begitulah kami memangil pria yang kocak dan lucu di Desa Sungai Buluh ini. Orangnya mudah diajak bicara dan suka bergaul sama warga. Menurut ceritanya, ia menjadi lumpuh dikarenak jatuh dari lantai dua ketika sedang bekerja.
“Yah, jatuh dari lantai dua,” cerita Pak Itak, sembari tak mau lagi mengingat masa kelamnya yang telah terjadi 19 tahun silam tersebut. Kini Pak Itam terus berusaha sekuat dan semampu yang ia dapat lakukan.
Meski kondisi fisiknya sudah berubah, Pak Itam adalah lelaki sejati. Ia tidak berdiam diri apalagi duduk-duduk didalam rumah. Sehari-harinya ia mengisi waktu dengan bekerja mencetak batu bata.
“Batu bata ini milik warga disini,” cetus Pak Itam, ketika ditemui sedang bekerja mencetak batu bata. Pak Itam tampak sudah tidak kaku lagi mencetak batu tersebut. Menggunakan sarung tangan, Pak Itam tampak lincah dan lihai.
“Sudah lama juga saya mencetak batu ini,” terangnya. Selain mencetak batu bata, Pak Itam dipercaya pemilik usaha batu bata tersebut untuk menjaga tempat tempat ini.
“Saya hanya mengambil upah dari mencetak batu tersebut, dalam satu hari saya mampu mencetak batu bata sebanyak dua sak,” tuturnya.
Dua sak seman bisa menghasilkan sekitar 2 ratus lebih batu bata. Nah, Bagaimana pak Itam mampu mencetak batu bata dalam satu hari bisa dua sak dengan kondisi Pak Itam, untuk berjalan saja sulit. Yah rencana tuhan lebih indah dari rencana manusia.
“Saya hanya mencetak dan mengadok semen aja. Sementara untuk mengangkat pasir dan semen, ada orang lain,” terang pak Itam. Dari hasil mencetak semen tersebut, Pak Itam dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
“Alhamdulilah dapatlah untuk makan sehari-hari,” kelakar Pak Itam.
Jika biasanya pencetak batu bata berdiri, namun tidak dengan Pak Itam. Ia mencetak batu ini dengan duduk.
Hidup itu bagaikan waktu terus berjalan, tak bisa henti dan tak pernah bisa mundur. Meski rintangan terus menghampiri, namun bukan alasan untuk menyerah apalagi mundur. Adapun yang sampai mati-matian mengejar gensi itu cuman orang yang lupa bagaimana caranya bersyukur.
Setiap orang akan merasakan gelombang dalam kehidupan ini. Senang, tawa, bahagia, sedih dan derita, pasti akan dirasakan setiap yang bernyawa. Namun, banyak menyerah dengan keadaan ketika dalam keadaan terpuruk, meski kondisi tubuh masih sehat dan bugar, dan akhirnya menyerah tanpa berjuang dan berkorban. (admin)
Tidak ada komentar