Aku "Turn Back Hoax"
Dahulu, kita mengenal cerita berantai, surat kaleng, kabar burung, desas desus, fitnah, hasut dan berbagai istilah lain yang sebenarnya mirip dengan hoax.
So..Sebenarnya hoax bukanlah cerita baru. Hoax tidak bekerja hanya melalui internet, sosial media atau perangkat elektronik lain. Mungkin inilah bentuk hoax terbaru saat ini.
Hoax memang bekerja sepanjang manusia masih saling berkomunikasi antar sesamanya. Hoax selalu bertranformasi ke dalam berbagai macam bentuk sesuai dengan jenis komunikasi yang dipakai saat itu. Dan mungkin hoax akan selalu ada sepanjang masa. Ih.ge'ri!
Beda hoax dulu dengan sekarang mungkin lebih pada keberadaan teknologi internet dan kemampuan sosial media dalam penyebaran berita hoax yang sangat cepat dan menyebar seolah tanpa batas. Ditambah kemampuan literasi sebagian besar masyarakat Indonesia yang masih kurang, sehingga mudah percaya berita hoax tanpa ada upaya melakukan klarifikasi.
1. Peran Pemerintah dalam Menangkal Hoax
Apresiasi pemerintah yang gesit dalam meredam hoax sehingga tidak menjadi gejolak di masyarakat. Undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) mampu menertibkan dan menjerat penyebar hoax dan fitnah di internet. Dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, setidaknya ada payung hukum yang bisa digunakan para korban hoax untuk menuntut pada penyebar hoax.
2. Peran Masyarakat dalam Menangkal Hoax
Masyarakat juga tak tinggal diam dengan geliat hoax saat ini. Munculnya aplikasi internet pada tahun 2016 lalu dengan nama Turn Back Hoax oleh komunitas Masyarakat Anti Fitnah Indonesia yang dirancang untuk mengumpulkan berbagai informasi fitnah dan hoax yang beredar di internet, merupakan bukti hoax memang harus kita perangi bersama.
3. Peran Keluarga dalam Menangkal Hoax
Pada akhirnya keluarga merupakan garda terdepan kita dalam menghadapi berita hoax dan fitnah yang mungkin mendera kita. Pastikan pula menjauhi postingan-postingan yang menjurus pada berita hoax. Termasuk pula tidak mudah menyebarkan (share) informasi-informasi yang belum diketahui kebenarannya.
4. Peran Guru dan Pendidikan dlam Menangkal Hoax
Guru dan pendidikan sebenarnya memiliki peran yang sangat strategis dalam menangkal geliat hoax. Guru juga memiliki kewajiban sosial untuk bisa mengarahkan dan mengedukasi siswa agar tidak gagap dalam menerima informasi hoax. Meskipun guru hanya bekerja dalam lingkup sekolah, namun interaksinya dengan siswa memungkinkannya untuk bertindak lebih menangkal hoax.
hampir sebagian besar pengguna media sosial di Indonesia adalah pelajar dan mahasiswa. Maka, apabila tindakan-tindakan untuk menangkal hoax dimulai dari pelajar dan mahasiswa, maka bisa dipastikan mata rantai penyebaran informasi hoax tidak akan efektif.
Namun tentu saja untuk membekali siswa sadar akan hoax dan bahayanya, tidak cukup hanya dengan memberi tahu laksana penjelasan materi pelajaran di kelas. Perlu metode, tahapan, jurus dan kesabaran agar siswa benar-benar memahami keadaan mereka yang mudah dipengaruhi berita hoax serta cara menangkalnya. Salah satu metode agar siswa bisa mendiri mendeteksi suatu berita hoax adalah membekali siswa pada kemampuan Metodologi Ilmiah (Metilmiah).
Apabila siswa terbiasa menerapkan metodologi ilmiah dalam memecahkan setiap permasalahan di kelas atau selama pelajaran, maka sangat mungkin kebiasaan tersebut akan dibawa saat menghadapi permasalahan di luar kelas. Siswa jadi tidak mudah begitu saja percaya dengan berbagai informasi yang tersebar, baik itu secara lisan maupun melalui media sosial. Siswa akan mungkin menguji informasi tersebut seperti layaknya sedang uji praktikum.
Dari sini maka Saya berpendapat bahwa sebanyak apapun informasi hoax yang menyebar, maka akan berhenti dengan kemampuan metodologi ilmiah.(dari berbagai sumber).
So..Sebenarnya hoax bukanlah cerita baru. Hoax tidak bekerja hanya melalui internet, sosial media atau perangkat elektronik lain. Mungkin inilah bentuk hoax terbaru saat ini.
Hoax memang bekerja sepanjang manusia masih saling berkomunikasi antar sesamanya. Hoax selalu bertranformasi ke dalam berbagai macam bentuk sesuai dengan jenis komunikasi yang dipakai saat itu. Dan mungkin hoax akan selalu ada sepanjang masa. Ih.ge'ri!
Beda hoax dulu dengan sekarang mungkin lebih pada keberadaan teknologi internet dan kemampuan sosial media dalam penyebaran berita hoax yang sangat cepat dan menyebar seolah tanpa batas. Ditambah kemampuan literasi sebagian besar masyarakat Indonesia yang masih kurang, sehingga mudah percaya berita hoax tanpa ada upaya melakukan klarifikasi.
1. Peran Pemerintah dalam Menangkal Hoax
Apresiasi pemerintah yang gesit dalam meredam hoax sehingga tidak menjadi gejolak di masyarakat. Undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) mampu menertibkan dan menjerat penyebar hoax dan fitnah di internet. Dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, setidaknya ada payung hukum yang bisa digunakan para korban hoax untuk menuntut pada penyebar hoax.
2. Peran Masyarakat dalam Menangkal Hoax
Masyarakat juga tak tinggal diam dengan geliat hoax saat ini. Munculnya aplikasi internet pada tahun 2016 lalu dengan nama Turn Back Hoax oleh komunitas Masyarakat Anti Fitnah Indonesia yang dirancang untuk mengumpulkan berbagai informasi fitnah dan hoax yang beredar di internet, merupakan bukti hoax memang harus kita perangi bersama.
3. Peran Keluarga dalam Menangkal Hoax
Pada akhirnya keluarga merupakan garda terdepan kita dalam menghadapi berita hoax dan fitnah yang mungkin mendera kita. Pastikan pula menjauhi postingan-postingan yang menjurus pada berita hoax. Termasuk pula tidak mudah menyebarkan (share) informasi-informasi yang belum diketahui kebenarannya.
4. Peran Guru dan Pendidikan dlam Menangkal Hoax
Guru dan pendidikan sebenarnya memiliki peran yang sangat strategis dalam menangkal geliat hoax. Guru juga memiliki kewajiban sosial untuk bisa mengarahkan dan mengedukasi siswa agar tidak gagap dalam menerima informasi hoax. Meskipun guru hanya bekerja dalam lingkup sekolah, namun interaksinya dengan siswa memungkinkannya untuk bertindak lebih menangkal hoax.
hampir sebagian besar pengguna media sosial di Indonesia adalah pelajar dan mahasiswa. Maka, apabila tindakan-tindakan untuk menangkal hoax dimulai dari pelajar dan mahasiswa, maka bisa dipastikan mata rantai penyebaran informasi hoax tidak akan efektif.
Namun tentu saja untuk membekali siswa sadar akan hoax dan bahayanya, tidak cukup hanya dengan memberi tahu laksana penjelasan materi pelajaran di kelas. Perlu metode, tahapan, jurus dan kesabaran agar siswa benar-benar memahami keadaan mereka yang mudah dipengaruhi berita hoax serta cara menangkalnya. Salah satu metode agar siswa bisa mendiri mendeteksi suatu berita hoax adalah membekali siswa pada kemampuan Metodologi Ilmiah (Metilmiah).
Apabila siswa terbiasa menerapkan metodologi ilmiah dalam memecahkan setiap permasalahan di kelas atau selama pelajaran, maka sangat mungkin kebiasaan tersebut akan dibawa saat menghadapi permasalahan di luar kelas. Siswa jadi tidak mudah begitu saja percaya dengan berbagai informasi yang tersebar, baik itu secara lisan maupun melalui media sosial. Siswa akan mungkin menguji informasi tersebut seperti layaknya sedang uji praktikum.
Dari sini maka Saya berpendapat bahwa sebanyak apapun informasi hoax yang menyebar, maka akan berhenti dengan kemampuan metodologi ilmiah.(dari berbagai sumber).
style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-fh+4u+bf-ee-cq" data-ad-client="ca-pub-5860768994460593" data-ad-slot="9688244498"> |
|---|
| BACA ARTIKEL LAIN: |
style="display:inline-block;width:320px;height:300px" data-ad-client="ca-pub-5860768994460593" data-ad-slot="1267485530"> |
Tidak ada komentar