Jendral Tito Di PBB: Terorisme Bukan Islam Dan Islam Bukanlah Terorisme
JpNews - NEW YORK - Kapolri Jenderal Polisi Profesor H. Muhammad Tito Karnavian, Ph.D menjadi salah satu pembicara dalam diskusi panel yang diselenggarakan di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) New York, Amerika Serikat, Senin (30/10).
Diskusi yang dihadiri oleh 52 perwakilan negara tersebut, Kapolri menyampaikan paparan mengenai Strategi Strategi dan Kontra pada Jaringan Teroris Global, serta pandangannya tentang terorisme global yang telah menjadi isu utama dalam keamanan dunia saat ini.
Dalam paparannya, Kapolri membagi fenomena terorisme global kontemporer dalam dua gelombang besar. Gelombang pertama saat kemunculan Al Qaeda sebagai jaringan kelompok terorisme global pertama di dunia dan gelombang kedua saat ISIS muncul sejak 2014 sebagai ancaman baru bagi keamanan dunia.
Kapolri menjelaskan "Pentingnya strategi pendekatan lunak (pendekatan lunak) dalam penilaian kelompok terorisme, tidak hanya mengandalkan pendekatan keras (hard approach)," paparnya.
Peserta diskusi sangat antusias dengan konsep pendekatan lembut tersebut, terlebih ketika Kapolri menyampaikan adanya penurunan kualitas dan jumlah serangan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
"Pendekatan itu diperlukan, sebab terorisme global tidak bisa dilaksana hanya dengan penggunaan senjata," tegasnya.
Lanjut mantan Kepala Densus 88 Antiteror, Dalam pendekatan ini dia menjelaskan, ada lima langkah yang bisa ditempuh.
"Kontra radikalisasi, Deradikalisasi, Kontra ideologi, Menetralisir saluran, dan Menetralisir situasi yang mendukung penyebaran paham radikal," bebernya.
Pada akhir paparan, Kapolri menyampaikan pesan penting kepada PBB tentang perlunya menjaga perdamaian dunia, khususnya di negara-negara islam.
Dia bilang PBB perlu diprioritaskan agar beresiko terjadinya kekerasan dan dapatkan kejadian jika terjadi konflik tersebut. Namun, Jenderal Tito mengakuinya.
"Terorisme bukan Islam 'dan' Islamalah terorisme ', Pungkasnya.
Dalam diskusi panel tersebut, tampil sebagai moderator adalah Wakil Tetap Indonesia untuk PBB Dian Triansyah Djani, keynote remarks oleh Chief of Policy and Coordinating Unit UNOCT Rafiuddin Shah (Pakistan), panelis pertama Perwakilan Tetap Singapura untuk PBB Burhan Gafoor, dan Kapolri sebagai panelis kedua.
Selain mengikuti panel diskusi, Jenderal Tito menyempatkan diri melakukan pembicaraan dengan USG Dept. Field Support Atul Khare untuk membahas kelanjutan pengiriman pasukan Polri dalam misi perdamaian dunia. Kapolri juga bertemu dengan USG UNOCT Vladimir Voronkov guna berbagi informasi tentang pelaksana terorisme global.
Pada pertemuan itu, Voronkov menawarkan Jenderal Tito untuk berbicara dalam forum khusus tentang terorisme yang akan diikuti oleh semua negara anggota PBB pada bulan Juni 2018 di New York. (**)
Sumber: JPNN
Diskusi yang dihadiri oleh 52 perwakilan negara tersebut, Kapolri menyampaikan paparan mengenai Strategi Strategi dan Kontra pada Jaringan Teroris Global, serta pandangannya tentang terorisme global yang telah menjadi isu utama dalam keamanan dunia saat ini.
Dalam paparannya, Kapolri membagi fenomena terorisme global kontemporer dalam dua gelombang besar. Gelombang pertama saat kemunculan Al Qaeda sebagai jaringan kelompok terorisme global pertama di dunia dan gelombang kedua saat ISIS muncul sejak 2014 sebagai ancaman baru bagi keamanan dunia.
Kapolri menjelaskan "Pentingnya strategi pendekatan lunak (pendekatan lunak) dalam penilaian kelompok terorisme, tidak hanya mengandalkan pendekatan keras (hard approach)," paparnya.
Peserta diskusi sangat antusias dengan konsep pendekatan lembut tersebut, terlebih ketika Kapolri menyampaikan adanya penurunan kualitas dan jumlah serangan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
"Pendekatan itu diperlukan, sebab terorisme global tidak bisa dilaksana hanya dengan penggunaan senjata," tegasnya.
Lanjut mantan Kepala Densus 88 Antiteror, Dalam pendekatan ini dia menjelaskan, ada lima langkah yang bisa ditempuh.
"Kontra radikalisasi, Deradikalisasi, Kontra ideologi, Menetralisir saluran, dan Menetralisir situasi yang mendukung penyebaran paham radikal," bebernya.
Pada akhir paparan, Kapolri menyampaikan pesan penting kepada PBB tentang perlunya menjaga perdamaian dunia, khususnya di negara-negara islam.
Dia bilang PBB perlu diprioritaskan agar beresiko terjadinya kekerasan dan dapatkan kejadian jika terjadi konflik tersebut. Namun, Jenderal Tito mengakuinya.
"Terorisme bukan Islam 'dan' Islamalah terorisme ', Pungkasnya.
Dalam diskusi panel tersebut, tampil sebagai moderator adalah Wakil Tetap Indonesia untuk PBB Dian Triansyah Djani, keynote remarks oleh Chief of Policy and Coordinating Unit UNOCT Rafiuddin Shah (Pakistan), panelis pertama Perwakilan Tetap Singapura untuk PBB Burhan Gafoor, dan Kapolri sebagai panelis kedua.
Selain mengikuti panel diskusi, Jenderal Tito menyempatkan diri melakukan pembicaraan dengan USG Dept. Field Support Atul Khare untuk membahas kelanjutan pengiriman pasukan Polri dalam misi perdamaian dunia. Kapolri juga bertemu dengan USG UNOCT Vladimir Voronkov guna berbagi informasi tentang pelaksana terorisme global.
Pada pertemuan itu, Voronkov menawarkan Jenderal Tito untuk berbicara dalam forum khusus tentang terorisme yang akan diikuti oleh semua negara anggota PBB pada bulan Juni 2018 di New York. (**)
Sumber: JPNN
Tidak ada komentar