I WANNA BE THE INSPIRED WRITER
I WANNA BE THE INSPIRED WRITER
Di tahun baru ini aku punya banyak mimpi. Menurutku mimpi itu ada periodenya. Ada mimpi untuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.
Sebenarnya sih untuk urusan mimpi aku nggak muluk-muluk yang masuk akal saja atau sesuai dengan kemampuan diri. Aku rasa itu lebih baik. Biarlah kita punya biasa-biasa saja tapi kita dapat mewujudkannya atau melaksanakannya. Itu baru mantap bukan? Kalau kita punya seabrek mimpi yang muluk-muluk lantas tidak kita garap ya percuma dong. Jadi ngapain punya mimpi tapi tidak direalisasikan ya sama saja. Itu menurutku namanya penghayal kelas berat.
Dari lubuk hatiku yang paling dalam sebenarnya aku ingin menjadi penulis yang bisa atau mampu menginspirasikan orang lain melalui tulisan yang dibukukan. Mungkin para pembaca kurang setuju dengan mimpiku itu. Tapi biarlah yang penting itulah adalah my big dream.
Dan mungkin juga yang membaca tulisan ini lagi berkerut dahinya ketika mereka tahu mimpiku menjadi seorang penulis yang bisa membuat orang-orang terinspirasikan atau terbius dengan tulisan yang akan ku buat.
Mewujudkan mimpi besarku itu tidaklah mudah. Ibarat orang yang sedang membalikkan telapak tangannya. Ini tidak akan berhasil apabila tanpa usaha atau ikhtiar yang kuat dan sungguh-sungguh.
Aku punya beberapa sebab kenapa aku ingin menjadi the inspired writer. Aku mengambil pendapat beberapa sastrawan antara lain sebagai berikut :
1. Seno Gumira Ajidarma
menyatakan bahwa “Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.” “Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia.” “Apa boleh buat, jalan seorang penulis adalah jalan kreativitas, di mana segenap penghayatannya terhadap setiap inci gerak kehidupan, dari setiap detik dalam hidupnya, ditumpahkan dengan jujur dan total, seperti setiap orang yang berusaha setia kepada hidup itu sendiri—satu-satunya hal yang membuat kita ada.”
2. Pramoedya Ananta Toer
menyebutkan “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”
“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ?Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin,akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”
3. Helvy Tiana Rosa
menyatakan “Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi” “Buku yang baik adalah buku yang bisa membuatmu bergerak.” “Saya menulis bukan hanya untuk dunia, tetapi juga demi akhirat saya.” “Tulisan itu rekam jejak. Sekali dipublikasikan, tak akan bisa kau tarik. Tulislah hal-hal berarti yg tak akan pernah kau sesali kemudian.” “Di antara tantangan dalam menulis adalah berpikir sebagai pencipta sekaligus pembaca pada saat bersamaan.” “Pembaca adalah jantung buku saya.” “Kalau usiamu tak mampu menyamai usia dunia, maka menulislah. Menulis mperpanjang ada-mu di dunia dan amalmu di akhirat kelak.” “Menulis itu sebenarnya sama dengan berbicara, hanya saja itu kau catat.” “Tingkat peradaban suatu bangsa diantaranya diukur dari berapa banyak orang yang membaca dan menulis di negeri itu.” “Menulis adalah memahat peradaban.” “Saat menulis karya sastra, kita bisa menjelma siapapun yang kita inginkan, mencipta, membalik keadaan, membuatnya sesuka kita.” “Bagi saya menulis novel itu memahat kenangan, menyulut inspirasi sambil melakukan pembalasan atas kepedihan dengan cara yang paling indah.” “Menulis itu mudah. Tapi bagaimana agar tiap huruf berarti dan bisa membuat pembacamu bergerak ke arah yg lebih baik, tanpa kau gurui.” “Menulis itu peduli. Menulis itu mencinta.” “Pembalasan paling indah yang sangat pedih adalah lewat novel.”
“Menulis dan bercahayalah!” “Tulisan kita tak akan mati, bahkan bila kita mati.”
“Menulis itu kegiatan menanam berlian di hati pembaca.” “Sastra bisa menampung semua gejolak dalam diri, mengurangi derita serta membuatmu lebih peka serta berdaya.” “Menulislah dengan wawasan dan hati, agar bisa mencerdaskan dan sampai ke hati-hati yang lainnya.” “Menulis itu menenangkan pikiran dan nurani yang nyeri.” “Karya sastra adalah parfum para sastrawan.”
4. Goenawan Mohamad menyatakan “Kesusastraan adalah hasil proses yang berjerih payah, dan tiap orang yang pernah menulis karya sastra tahu: ini bukan sekadar soal keterampilan teknik. Menulis menghasilkan sebuah prosa atau puisi yang terbaik dari diri kita adalah proses yang minta pengerahan batin.”
5. Wiji Thukul lebih tegas lagi menyampaikan “Jika aku menulis dilarang, aku akan menulis dengan tetes darah!”
6. Dian Nafi menyebutkan “Menulis akan menyembuhkan luka”
Itu pendapat-pendapat mereka tentang keuntungan atau kemanfaatan dari menulis. Tetapi menurutku dengan menulis kita bisa menjadi kaya tapi jangan senang dulu kaya apa. Yang ku maksud adalah kaya akan ilmu pengetahuan tentang menulis, teman-teman penulis yang belum ku kenal melalui sosial media atau media lainnya, kemudian dapat mencurahkan segala isi hati untuk diluahkan ke dalam bentuk tulisan dan mungkin juga dapat mengurangi depresi atau stress menghadapi berbagai problematika kehidupan yang terjadi di muka bumi ini.
Menulis juga merupakan cara berkomunikasi. Melalui tulisan-tulisan yang kita buat, kita berkomunikasi dengan publik (dengan banyak orang). Nah, menulis buku merupakan salah satu cara memublikasikan profil kita.
Ketika kita menulis buku, kita sudah melakukan langkah publikasi. Ketika publik membaca karya kita, maka kita kian dikenal.Karena alasan publikasi inilah saya juga tetap menekuni kegiatan menulis. Hal ini bukan sekadar agar dikenal dan diingat orang. Lebih dari itu, menulis buku menjadikan nama saya tetap eksis di toko buku. Saya menjadikan buku layaknya kartu nama. Buku-buku yang dipajang di Gramedia, saya ibaratkan sebagai “kartu nama”. Ketika buku kita dipajang di toko-toko buku, orang-orang dapat dengan mudah mengambil “kartu nama” tersebut dan mengenali kita.Semoga mudah-mudahan mimpi besarku menjadi kenyataan.
Selain itu juga, awalnya aku ingin meningkatkan karir dan kinerja diriku sebagai abdi negara dengan cara menulis.Sebab inilah yang dapat ku jadikan celah yang dapat ku lakukan dan ternyata dengan membaca buku-buku yang berhubungan dengan penulisan.Akhirnya aku dapat menulis sebuah puisi untuk ku ikutkan dalam lomba cipta puisi yang diadakan sebuah penerbit yang terletak di pulau Jawa nun jauh disana dan tidak ku sangka puisi ciptaanku diterima lalu ku ucapkan puji syukur tak terhingga ke hadirat Allah SWT atas keberhasilan ini. Lalu ku sampaikan kepada istriku.”Ummi,abie dapat penghargaan atas keberhasilan abi sebagi penulis buku antologi puisi yang berjudul “Sudut Kotaku” ujar ku.Istriku menjawab,” Syukur alhamdulilah,” Ini merupakan sebuah langkah awal menuju tujuanku yang sebenarnya yaitu menjadi seorang penulis yang dapat mengispirasikan orang banyak melalui tulisan-tulisanku. Dan ku yakin berkat ketekunan, keuletan, kesabaran, ketelitian dan tak lupa berdo’a tanda keberkahan dari Sang Pencipta alam semesta. Usaha dan do’a ibarat dua keping logam yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Tiada kata menyerah jika kita ingin menjadi sukses dan keberhasilan itu tidak akan datang sendirinya tanpa niat yang tulus, kerja keras dan do’a yang selalu kita panjatkan ke hadirat Illahi.
Penulis : Dedi Wahyudi
Sumber : Gurusiana.id
Tulisan lainnya :
TERJEREMBAB DALAM PERMAINAN KATA
Tidak ada komentar